Welcome to our website

Selamat datang di website kami, dimana disini Anda bisa mendapatkan informasi tentang Indonesian Customs atau Bea Cukai Indonesia, terutama mengenai Impor, Ekspor, dan Cukai. Baik Tata Cara (Prosedur) berbagai proses kepabeanan dan cukai, maupun berbagai berita tentang Bea Cukai Indonesia

Blog ini dibuat hanya sebagai catatan untuk mempermudah mengingat peraturan kepabeanan cukai yang sangat dinamis, informasi yang tercantum di dalam blog ini dapat berbeda dengan kenyataan di lapangan.

Loading...

Minggu, 21 Agustus 2011

DitJend Bea Cukai Naikkan Target Penerimaan 2011 Sebesar 30 Triliun

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menaikkan target penerimaan negara dari Bea Cukai sekitar Rp30 triliun. Dari tiga sumber penerimaan negara, cukai rokok masih mendominasi pemasukan negara dari sektor bea dan cukai itu.

"Penerimaan bea cukai dari cukai rokok, bea masuk dan bea keluar pada semester satu telah melampui target. Karena itu, target akan ditambah sekitar Rp30 triliun," kata Dirjen Bea Cukai, Agung Kuswandono di Jakarta, Jumat 12 Agustus 2011.

Walaupun ditambah, Agus optimistis target tersebut akan kembali terlampaui. Agung mencontohkan, hingga saat ini penerimaan dari cukai rokok saja sudah mencapai Rp60-70 triliun. "Itu sudah sekitar 60 persen dari target semester I-2011," katanya.

Bea Cukai mengaku terus melakukan upaya internal untuk meningkatkan kegiatan penindakan dan intelijen. Langkah tersebut diharapkan bisa menutup kebocoran kegiatan negara. Salah satu upaya penindakan dan intelijen Bea Cukai adalah penggerebekan cukai palsu baik untuk produk rokok maupun minuman beralkohol.

Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil Bea Cukai Jakarta, GH Sutejo mengatakan, selama semester I-2011, Bea Cukai Jakarta telah melakukan dua kali operasi penindakan pemalsuan bea cukai dengan taksiran kerugian negara mencapai Rp576 miliar.

"Untuk mengetahui cukai asli atau palsu memiliki keahlian khusus, biasanya hologram susah dipalsukan. Tapi, sekarang peralatan sudah canggih, hologram pun sudah dipalsukan," katanya.

Agus menegaskan, aparatnya akan menindak tegas pabrik-pabrik rokok yang membeli cukai palsu. Menurut dia, sanksi diberikan sesuai tingkat kesalahan, dari sanksi administrasi hingga izin produksi rokok dapat dicabut.

"Sekarang ini sedang kami lakukan pengembangan, namun bagi pabrik rokok yang terlibat bisa dicabut izin produksi pabrik rokok tersebut," katanya.

Kantor Wilayah DJBC Jakarta Gulung Sindikat Pita Cukai Palsu

Kantor Wilayah Bea-Cukai Jakarta menggulung sindikat pembuat dan penjual pita cukai rokok palsu senilai Rp 50 miliar. Anggota komplotan itu berinisial DS, NS, AS, dan SS, yang ditangkap pada 6 dan 7 Agustus lalu di Jalan Gajah Mada; kawasan Kalibaru, Jakarta Pusat; daerah Kebon Jeruk; serta seputar Palmerah, Jakarta Barat. "Kami baru dapat ujungnya. Siapa yang memberi order dan perusahaan pengguna pita palsu, akan diselidiki," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono kepada wartawan di Kantor Wilayah Bea-Cukai Jakarta kemarin.

Petugas juga menyita 801.450 lembar pita cukai tahun 2011. Pita cukai itu berbanderol Rp 6.500 untuk kemasan rokok 16 batang. Ada pula lima lembar plat cetak, 170 lembar kertas kosong bahan pita cukai palsu, dan 1 unit mesin poly hologram. Bea-Cukai juga menyita 1 unit mesin cetak Heidelberg Speed Master empat warna bikinan 1998.

Dengan tertangkapnya komplotan pemalsu cukai itu, Bea-Cukai mencegah terjadinya kerugian negara Rp 2,7 miliar sekali cetak. "Mesin ini diperkirakan sudah dipakai hingga tiga kali," ujar Agung.

Pembuatan pita cukai palsu diduga dilakukan oleh DS, perekrut orang-orang baru yang punya keahlian di bidang pencetakan. Mereka beroperasi di beberapa tempat yang berbeda agar tidak mudah dideteksi. DS bukan orang baru. Ia adalah buron Kanwil Bea-Cukai Jakarta, anggota jaringan pencetak pita cukai palsu yang terbongkar awal 2011 bersama AA cs.

Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil Jakarta, G.H. Sutejo, menyatakan penangkapan dilakukan setelah lebih dari dua bulan penyelidikan dan pengembangan kasus yang sama yang terjadi pada Januari 2011. Ketika itu Kanwil Bea-Cukai menangkap sindikat AA dan tiga lainnya dalam kasus yang sama. Pita cukai bervariasi, untuk minuman keras dan beberapa tipe. Namun lima anggota komplotan itu kabur. DS adalah salah satu dari mereka yang kemudian melanjutkan produksi bersama NS, AS, dan SS.

"Dia mendompleng di salah satu percetakan di Kebayoran Lama," ujar Sutejo.
DS penghubung dan penerima order. Tiga tersangka lainnya operator pencetak. Pemilik percetakan hanya dijadikan saksi karena diduga tidak mengetahui aksi ketiga bawahannya.

Setelah tercetak, pita palsu disimpan di rumah kos DS di Jalan Gajah Mada. Sedangkan mesin hologram disimpan di sebuah rumah di Tanah Abang. Pada 6 Agustus, AS, berperan sebagai kurir, ditangkap di Tanah Abang. "Waktu kami periksa ke belakang, ternyata ada NS, DS, dan AS yang sedang mencetak hologram." Kebon Jeruk dan Palmerah hanya tempat transit untuk transaksi dan menerima order. Dari situ, pita cukai palsu diedarkan ke beberapa pabrik rokok di Jawa dan Sumatera.

Pita cukai palsu bikinan DS cs samar bedanya dengan aslinya. "Hanya, memang kalau orang awam melihat bentuknya akan sama saja." DS hanya mencetak pita cukai rokok palsu. Sutejo menduga karena order untuk jenis ini lebih banyak.

Hingga kini Bea-Cukai belum berhasil menangkap perusahaan pemakai cukai palsu ini. "Kami akan terus kembangkan. Dan kalau terungkap, kami akan kenakan sanksi pidana dan cabut izin operasional," ujar Agung.

Empat tersangka itu dijerat dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai dengan ancaman pidana maksimal delapan tahun. "Mereka juga dikenai denda, 10 hingga 20 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar," pungkasnya lagi.

Badan Pengawas Bangka Global Mandiri Akan Check Ekspor Mineral Perusahaan Tersebut di Bea Cukai

Badan Pengawas PD Bangka Global Mandiri (BGM) akan melakukan pengecekan ulang kepada instansi terkait semua data mengenai izin ekspor mineral ikutan maupun hasil perkebunan yang selama ini dilakukan perusahaan BUMD Kabupaten Bangka tersebut. Pasalnya badan pengawas ingin mengetahui pasti berapa banyak ekspor yang telah dilakukan PD BGM selama ini.

"Selama ini kegiatan BGM itu apa yang dilaporkan itu saja. BGM tempo hari sudah kami panggil juga untuk klarifikasi menyangkut berita-berita yang ada di koran itu. Seperti apa di koran itu bahwa BGM namanya saja, kelihatannya yang mengerjakan orang lain. Oleh sebab itu kami sebagai badan pengawas minta dengan BGM informasi jelasnya bagaimana, nanti kami akan mengecek juga apa yang disampaikan benar atau tidak," tegas Anggota Badan Pengawas PD BGM M Nasir Hasan, Jumat (19/08/2011) di ruang kerjanya.

Menurutnya, Badan Pengawas PD BGM ini akan menanyakan langsung laporan pengurusan perizinan yang dibuat PD BGM ke Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bangka.

"Lewat izinnya itu apa saja, yang dilakukan perusahaan sebab apa yang dilaporkan kemarin cocok atau tidak? yang seperti itu perlu diluruskan," kata Nasir yang menjabat sebagai Asisten III Setda Bangka ini.

Selain itu juga badan pengawas, lanjutnya akan meminta data ekspor yang dilakukan PD BGM kepada Bea Cukai untuk mengetahui berapa banyak selama ini PD BGM melakukan ekspor dan apa saja yang diekspor oleh perusahaan tersebut.

"Bukan tidak percaya, hanya ingin membuktikan kebenarannya," tegas Nasir.

Lebih lanjut, ia mengatakan sementara ini, karena terjadi polemik mengenai ekspor mineral ikutan ini, PD BGM diminta menghentikan ekspor mineral ikutan tersebut.

"Dijernihkan dulu jelasnya bagaimana? kalau memang tidak boleh itu otomatis istilahnya ya jangan sampai dilakukan lagi. Karena BGM punya namanya, orang lain yang mengerjakannya. Dari apa yang dikerjakan BGM, ini kan perusahaan, jadi yang tahu nanti bisa dilihat di akhir tahun pada laporan hasil kerja mereka," kata Nasir lagi.

HiPI Akan Demo Mapoldasu Terkait Kasus Impor Gula India Di Belawan

Dua pegawai Bea Cukai Belawan - Medan, Sumatera Utara, yang telah ditetapkan sebagai tersangka penyelundupan gula dari India, hingga saat ini belum juga ditahan Poldasu.

Kedua pegawai Bea Cukai Belawan yang telah ditetapkan sebagai tersangka tersebut yakni Ospaldo dan Syahrial, bertugas di Bagian Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai Belawan.

Terkait hal itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sumut Kombes Pol Sadono Budi Nugroho yang dikonfirmasi Sumut Pos mengenai hal tersebut, Minggu (21/8) mengatakan, sejauh ini pihaknya masih terus melakukan pelengkapan pemberkasan. “Untuk saat ini, sedang dilakukan proses pemberkasan,” katanya singkat.

Di lain pihak, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pemuda Indonesia (HiPI) Kota Medan, Atan M Gantar Gultom kepada wartawan mempertanyakan hal tersebut. “Dua oknum petugas Bea Cukai Pelabuhan Belawan yang telah ditetapkan sebagai tersangka penyelundupan dan pemalsuan dokumen 1.625 ton gula asal India, namun hingga kini belum juga ditahan Poldasu, ada apa?,” ungkapnya.

Ditambahkannya, karena hal itulah pihaknya akan melakukan demontrasi ke Mapoldasu pada Kamis (25/8) mendatang. Dan aksi itu berdasarkan surat DPC HiPI Kota Medan kepada Polda Sumut No : 2607/DPC/KM/PUR/VIII/2011 tertanggal 19 Agustus, hal pemberitahuan unjuk rasa pada Kamis, Tanggal 25 Agustus 2011 dengan jumlah massa sekitar 450 orang “Kita akan melakukan demo, guna mempertanyakan hal ini,” katanya lagi menambahkan.

Kamis, 14 April 2011

Bea Cukai Larang Impor Miras Ke Sumatera Utara

Bea Cukai Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara menjamin adanya larangan tentang impor minuman keras (miras) ke wilayahnya dan dijamin tidak ada yang lolos masuk. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sumatera Utara, Maimun Sulaiman saat rapat dengar pendapat dengan komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara, kemarin.

“Kita bisa jamin tidak ada yang lolos melalui pelabuhan,” kata Maimun. "Hanya saja, panjang pantai yang ada menjadi kendala. Tidak menutup kemungkinan masuknya melalui jalur lain." Demikian lanjutnya lagi.

Beberapa tempat di Sumatera Utara tidak dipungkiri bisa ditemui adanya beredar miras. Miras tersebut bisa berasal dari DKI Jakarta atau kepulauan lainnya. Termasuk miras produk dalam negeri. “Itupun seharusnya sudah memiliki segel bea cukai, dan telah dilekati pita cukai” katanya.
Namun secara tegas dikatakannya bahwa impor miras ke Sumatera Utara dilarang. Dalam waktu terakhir, Bea Cukai Sumatera Utara telah melakukan penyitaan terhadap 4 truk miras yang masuk dari provinsi tetangga dan saat ini sedang diproses di pengadilan.

Hal lain yang dibahas dalam rapat adalah seperti pertanyaan yang diajukan anggota komisi A, Irwansyah Damanik tentang keberadaan truk second hand yang masuk ke Sumatera Utara dari negara-negara tetangga.

Kenyataannya di Sumatera Utara sudah ada beredar truk second hand merupakan hasil impor. “Kenapa hal ini bisa terjadi, apa memang sudah ada peraturannya, atau hanya kelalaian yang membiarkan masuk sedemikian rupa?” kata Irwansyah.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Sumatera Utara, Cerah Bangun mengatakan bahwa hal itu memang benar, menurutnya itu secara keseluruhan diatur oleh dirjen perdagangan kementerian luar negeri. “Pemasukan truk bisa dilakukan jika produsen di dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka hal itu disahkan,” katanya. Namun peraturan seperti ini bisa satu saat dicabut jika sudah tidak dibutuhkan.

Cerah juga menjelaskan bahwa bea dan cukai mendapat banyak ribuan peraturan titipan tentang ekspor impor khususnya kementerian perindustrian dan perdagangan. Dan hal itu bisa secara continue dan bisa berubah-ubah.

Menanggapi adanya pertanyaan dari komisi A yang menanyakan proses pemeriksaan yang dilakukan oleh bea dan cukai. Apakah dilakukan seratus persen atau hanya sample? Maimun menjelaskan bahwa dalam proses pengecekan dilakukan dengan pembagian jalur. Ada jenis barang yang masuk harus diperiksa dan ada prosedurnya tidak mesti keseluruhan diperiksa. Prosesnya sangat teknis di lapangan. “Tentu harus mengikuti prosedural pemeriksaan,” katanya.

Kendala yang dihadapi di lapangan adalah, kurangnya personil yang bertugas. Dengan sekian banyaknya pelabuhan/bandara yang menjadi sentra masuknya barang-barang impor sampai saat ini jumlah pegawai di Bea Cukai hanya sekitar 10 ribu pegawai di seluruh Indonesia.
Misalnya di Tanjung Priok, barang yang masuk sekaligus dalam satu hari bisa mencapai 2000 kontainer sedangkan petugas hanya sekitar 1000 orang saja. “Berdasarkan azas pengawasan dan pelayanan serta manajemen resiko, maka digunakan sistem penjaluran berdasarkan profil importir dan pemeriksaannya ditetapkan sesuai resiko yang dikandung dari masing-masing importasi,” kata Maimun menjelaskan.

Pengadilan Perpajakan Buka Kesempatan Bagi Masyarakat Umum Untuk Menjadi Hakim Pajak

Pengadilan Perpajakan membuka kesempatan untuk menjadi hakim, meskipun saat ini bukan berasal dari Direktorat Jenderal Pajak, ataupun Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

"Perlu diketahui, kami ini telah membuka kesempatan untuk di luar teman-teman DJP dan DJBC, namun demikian kan semuanya tergantung tes," ungkap Sekretaris Pengadilan Pajak Juni Hastoto, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Namun demikian dia meyakini tidaklah mudah untuk menjadi seorang hakim di pengadilan pajak. Untuk menjadi seorang hakim, para calon akan melalui dua tahapan kompetisi yang harus dikuasai oleh hakim pajak. "Pertama kompetensi akuntansi, masalah-masalah yang berkaitan dengan akuntansi ini sangat penting," tambahnya,

Kedua, pemahaman akan ranah hukum baik perdata maupun pidana. Akan tetapi sistem yang diterapkan di Indonesia, kata dia, berbeda dengan yang diterapkan di luar negeri. "Jadi dua hal itu. Itu lain dengan di luar. Kalau di luar banyak yang dipersiapkan dari bawah," jelas dia.

Dengan demikian, lanjutnya, ada yang disebut hakim karier. Adapun hakim di Indonesia merupakan hakim yang masa jabatannya mempunyai durasi waktu "Kalau kita ini kan bukan hakim karir, hakim kita ini kan dibatasi lima tahun, setelah itu bisa diperpanjang," ungkapnya.

Selain itu, jika seseorang ingin menjadi hakim pada Pengadilan Perpajakan, maka orang tersebut tidak boleh terikat pada suatu organisasi ataupun perusahaan. "Kalau pun misalnya belum pensiun, maka dia harus melepaskan jabatannya," pungkasnya.

Bea Cukai Rusia Dipusingkan Impor Mobil Tercemar Radioaktif Dari Jepang

Petugas bea cukai Rusia timur jauh mengatakan Jumat besok mereka menghentikan pengiriman hampir 50 mobil bekas dari Jepang setelah tingkat radiasi akibat bocornya pembangkit nuklir Fukushima Daiichi di Jepang meningkat tajam.

Menurut ketua departemen monitoring radiasi bea cukai regional Roman Famin, mereka menghentikan pengiriman 49 mobil bekas untuk dijual itu karena tingkat radiasinya mencapai enam kali lebih tinggi dari batas normal. Beberapa kendaraan terpapar radioaktif isotop caesium 127 dan uranium 238.

Mobil tercemar radioaktif mulai tiba di pelabuhan Vladivostok 10 hari lalu, tapi pengawas konsumen pemerintah tidak membuat keputusan apa yang akan dilakukan dengan mobil terkontaminasi tersebut. "Jika keputusan tidak dibuat, pelabuhan akan dipenuhi kendaraan tercemar radioaktif," ujar Famin.

Pelabuhan Vladivostok kedatangan sekitar 300 mobil dari luar negeri setiap hari. manajemennya, dalam pernyataan yang dikeluarkan hari ini, Kamis (14/04), mengeluh tidak memiliki tempat yang cukup untuk menampung kendaraan terkontaminasi itu.

Rabu, 13 April 2011

Tarif Cukai MMEA Alami Kenaikan Hingga 40% Sejak April 2010, PPnBM Dihapuskan

Kenaikan tarif cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA), Etil Alkohol (EA) dan Konsentrat Mengandung Etil Alkohol (KMEA) telah efektif dilaksanakan per-1 April 2010. Keputusan tersebut merupakan pengejewantahan dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 62/PMK.011/2010. Dalam PMK tersebut pemerintah antara lain menaikkan tarif cukai hingga 40 persen, menyederhanakan golongan kadar alkohol dari golongan A1, A2,B1,B2 dan C menjadi golongan A,B dan C, termasuk menghapus pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) mulai 1 April 2010.

Penyesuaian tarif baru ini oleh sebagian pihak yang berkecimpung dibidang industri Minuman Mengandung Ethil Alkohol (MMEA) sangat disesalkan, karena dengan adanya kenaikan cukai hingga tiga kali lipat mulai April 2010, diprediksi harga jual minuman beralkohol seperti bir akan naik 20 hingga 40 persen.

Dan sudah menjadi aturan main, setiap akan diluncurkan peraturan baru, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam hal ini Direktorat Cukai melakukan sosialisasi terlebih dulu kepada masyarakat usaha khususnya yang terkait dengan industri MMEA, EA dan KMEA. Sosialisasi diawali kepada para pegawai di Kanwil DJBC Jawa Timur I, KPPBC Manado, Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT, Kanwil DJBC Sumatera Utara, KPPBC Surakarta dan di Kantor Pusat Jakarta pada 29 Maret 2010. Sedangkan sosialisasi kepada para pengguna jasa yang dilakukan pada waktu sama (29/3) dihadiri oleh perwakilan dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), PT Sarinah dan distributor MMEA impor di seluruh Indonesia, Asosiasi Produsen dan Pedagang Minuman MMEA (ASPROMIA), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dan asosiasi Pedagang Bebas Bea Indonesia (ATBBI).

Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Thomas Sugijata, kebijakan yang telah dituangkan dalam PMK 62/PMK.011/2010 dan PMK 82/PMK.011/ 2010 (tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Produk-Produk MMEA Tertentu) didasarkan pada upaya optimalisasi penerimaan negara khususnya di bidang cukai dengan penyederhanaan golongan tarif cukai ( dahulu terdiri dari golongan A1, A2, B1, B2, dan C yang saat ini disederhanakan menjadi golongan A, B, dan C) serta mempermudah pengawasan dan administrasi serta mengurangi dispute nilai pabean pada saat importasinya. Mengingat tujuan kebijakan salah satunya adalah pembatasan, lanjut Thomas, maka secara umum beban tarif cukai memang meningkat untuk masing-masing golongan sekaligus kompensasi atas penghapusan PPnBM atas Barang Kena Cukai berupa MMEA. Pengambilan kebijakan tersebut dikoordinasikan oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF), sementara Bea dan Cukai lebih kepada pelaksanaan kebijakan tersebut.

"Kenaikan harga sepertinya tidak bisa dihindarkan khususnya bagi minuman beralkohol, pasalnya, pemerintah akan segera mengenakan tarif cukai baru terhadap berbagai jenis minuman yang mengandung alkohol melalui Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 62/PMK.011/2010 tentang Tarif Cukai Etil Alkohol (EA), Minuman Mengandung Ethil Alkohol (MMEA), dan Konsentrat yang Mengandung Etil Alkohol (KMEA)."

MENINGKATKAN KEPATUHAN IMPORTIR UNTUK IMPORTASI MMEA LEGAL

Kenaikan tarif cukai khususnya untuk minuman beralkohol memang dimaksudkan untuk mengurangi tingkat konsumsi dalam rangka pengawasan. Karena memang salah satu karakteristik cukai adalah segala sesuatu yang berdampak pada kesehatan harus dikenakan pajak tinggi supaya mengurangi konsumsi.

“Apapun, jika mempunyai dampak kesehatan, itu harus dikenakan pajak yang tinggi supaya mengurangi konsumsi dalam rangka pengawasan,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu.

Jadi kalau diuraikan lebih lanjut, tambah Anggito, beberapa hal yang melatarbelakangi dikeluarkannya keputusan ini adalah:

Pertama, penyesuaian atas tarif cukai lama yang berlaku sejak tahun 2006 pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 89/PMK.04/2006 tentang Penetapan Tarif Cukai Etil, Alkohol Atau Etanol dan Peraturan Menteri Keuangan No.90/PMK.04/2006 tentang Penetapan Tarif Cukai Minuman Dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol, yang dilakukan dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK, 011/2010 tentang Tarif Cukai Etil Alkohol, Minuman Mengandung Etil Alkohol dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai bahwa cukai dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karekteristik sebagai berikut:
  1. Konsumsinya perlu dikendalikan;
  2. Peredarannya perlu diawasi;
  3. Pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup atau
  4. pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.
Kedua, alasan karena pertimbangan asumsi makro di antaranya kenaikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, mengabsorbsi PPnBM yang tidak dipungut lagi terhadap minuman berakohol sesuai dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah pada penjelasan Pasal 5 ayat 1.

Keempat, untuk MMEA jenis wine dan spirit impor, sekalipun terdapat kenaikan cukai namun beban perpajakan secara keseluruhan menurun, dengan melihat benchmark negara-negara yang berkarakteristik mirip yakni negara tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA.

Penurunan beban perpajakan ini diharapkan akan meningkatkan kepatuhan importir sehingga akan mengurangi angka penyelundupan dan meningkatkan penerimaan negara.

Mengenai pengawasan terhadap pemasukan dan peredaran minuman beralkohol, menurut Anggito, pemerintah telah melakukan secara ketat antara lain oleh Kementerian Perindustrian terkait dengan perijinan pendirian pabrik yang termasuk dalam Daftar Negatif Investasi (DNI), Kementerian Perdagangan melalui Peraturan Menteri Perdagangan yang mengatur kuota dan distribusinya, dan Kementerian Keuangan terkait dengan kebijakan fiskal dan pengawasan fisik maupun administrasi terkait cukai, bea masuk, dan PPN yang dilakukan oleh DJBC .

Pengawasan terhadap pemasukan dan peredaran minuman beralkohol antara lain dilakukan dengan melakukan operasi pencegahan, operasi minuman yang beredar di pasaran dan sebagainya sesuai tugas pokok dan fungsi dari DJBC. Dengan terbitnya PMK Nomor 62/PMK.011/ 2010 tentang Tarif Cukai Etil Alkohol, Minuman Mengandung Etil Alkohol, dan Konsentrat mengandung Etil Alkohol ini, Anggito berharap ;
  • Tarif cukai diterapkan secara spesifik dengan maksud agar memudahkan administrasi pemungutan dan kepastian pendapatan negara.
  • Menyederhanakan penggolongan tarif cukai bir menjadi satu golongan, menyamakan tarif cukai MMEA Dalam Negeri dengan MMEA Impor secara bertahap.
  • Menyesuaikan beban perpajakan MMEA Indonesia dengan negaranegara yang berkarakteristik mirip yakni, tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA.
  • Kebijakan penyesuaian tarif cukai juga dimaksudkan untuk menutup potensi penurunan penerimaan negara dengan adanya penghapusan PPnBM
Mengenai sistem penghitungan cukai, menurut Anggito, tidak ada perubahan sistem tarif cukai karena penghitungan cukai dengan mendasarkan pada volumetrik atau spesifik sudah diterapkan pada tarif cukai yang berlaku sebelumnya. Selama ini MMEA dikenakan PPnBM yang dihitung dengan tarif advalorem (%), sedangkan cukai dihitung dengan sistem tarif spesifik (volumetrik). Dengan tarif spesifik, selain berpengaruh terhadap kemudahan administrasi cukai juga sesuai dengan filosofi cukai yang diterapkan atas barang, bukan karena faktor harganya.

Bea Cukai Awasi Minuman Keras Tradisional

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Thomas Sugijata, menerbitkan Surat Edaran bernomor SE-4/BC/2011 yang meminta jajarannya melakukan pengawasan terhadap minuman keras atau beralkohol yang dibuat secara tradisional.

Salinan Surat Edaran yang diperoleh di Jakarta, Senin, menyebutkan, Surat Edaran tentang Pengawasan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) Tradisional Sebagai Barang Kena Cukai yang Tidak Dipungut Cukai itu, ditujukan untuk menjadi pedoman pelaksanaan dalam pengawasan minuman tradisional.

Ruang lingkup surat edaran itu meliputi penegasan bahwa MMEA atau minuman keras tradisional merupakan barang kena cukai yang tidak dipungut cukai.

Surat Edaran itu juga menetapkan bentuk pengawasan yang dilakukan terhadap MMEA tradisional sebagai barang kena cukai yang tidak dipungut cukai. Selain itu mekanisme pelaporan hasil pengawasan terhadap MMEA tradisional.

MMEA tradisional dimaksud harus memenuhi sejumlah kriteria yaitu MMEA merupakan hasil peragian atau penyulingan yang dibuat oleh rakyat di Indonesia secara sederhana semata-mata untuk mata pencaharian, produksi tidak melebihi 25 liter per hari, dan tidak dikemas untuk penjualan eceran.

Orang yang membuat MMEA tradisional sebagai barang kena cukai yang tidak dipungut cukai dikecualikan dari kewajiban untuk memiliki nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).

MMEA tradisional sebagai barang kena cukai yang tidak dipungut cukai dikecualikan dari kewajiban untuk dilindungi dokumen cukai.

Sementara bentuk pengawasan berdasar surat edaran yang ditetapkan 24 Maret 2011 meliputi (1) Kantor Pelayanan Utama atau Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPU/KPPBC) menyusun database orang yang membuat MMEA tradisional sesuai dengan format yang ditetapkan, melalui koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

KPU/KPPBC bersama dengan pemerintah daerah melakukan pemantauan atas pemutakhiran database orang yang membuat MMEA tradisional setiap tiga bulan.

KPPBC melakukan pemantauan atas pembuatan dan penjualan MMEA tradisional sesuai dengan format yang telah ditetapkan, melalui koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

Pelanggaran atas ketentuan yang terkait dengan MMEA tradisional agar ditindak dan diberikan sanksi secara tegas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang cukai.

Sementara itu mekanisme pelaporan ditetapkan bahwa database orang yang membuat MMEA tradisional beserta perubahannya (update) dikirimkan setiap tiga bulan paling lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya kepada Kepala Kantor Wilayah DJBC dengan tembusan kepada Direktur Cukai.

Data pembuatan dan penjualan MMEA tradisional dikirimkan paling lambat tanggal 10 setiap bulan kepada Kepala Kantor Wilayah DJBC dengan tembusan kepada Direktur Cukai.

Selasa, 12 April 2011

Bea Cukai Bandara Ngurah Rai Bali Tangkap WN Malaysia

Petugas Bea dan Cukai Bandara Ngurah Rai, Bali, menangkap Ching Eng Oo, 38 tahun, warga Malaysia yang membawa narkoba jenis ketamine seberat 2,49 gram.

"Tersangka ditangkap saat petugas bandara memeriksa badannya, yang kemudian ditemukan satu bungkus plastik klip berisi bubuk ketamine di dalam saku celananya," ujar Kepala Kantor Pelayanan Bea Cukai Bandara Ngurah Rai Made Wijaya, Selasa (12/4).

Tersangka, yang memiliki nomor paspor A16291243 itu, ditangkap pada Senin (11/4) pukul 16.00 Wita sesaat setelah turun dari pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 851 rute Kuala Lumpur - Denpasar.

Ia datang ke Bali bersama istri beserta rombongan untuk berlibur. Setelah tertangkap tangan, istri tersangka sempat menangis histeris karena kaget, ternyata selama ini suaminya mengonsumsi barang haram tersebut.

"Dari keterangan tersangka, barang tersebut didapatnya dari Penang Malaysia, dan rencananya akan dikonsumsi sendiri saat berlibur di Bali," ujarnya.

Wijaya menerangkan, harga jual ketamine di pasaran mencapai Rp1 juta per gram, sehingga dari barang bukti yang ditemukan pada saku celana tersangka diperkirakan mencapai Rp2,4 juta.

Menurut dia, ketamin atau "kettle mine" merupakan obat bius yang berefek halusinogen dan dapat melumpuhkan semua indera pada manusia.

"Ketamine itu ditemukan pada tahun 1962, diciptakan untuk dunia kedokteran, namun perkembangannya justru disalahgunakan, atau digunakan sebagai pengganti narkotika karena efek yang ditimbulkan ketamine menyerupai efek ganja, hasis dan lainnya," kata Wijaya.

Ia menjelaskan, ketamine memiliki dua macam bentuk, yakni berupa cairan bening dan serbuk putih kristal. Cara pemakaiannya pun beragam, ada yang dicampur ke dalam minuman, dihirup dengan hidung, disuntikan, dioleskan pada bahan tambahan seperti rokok dan cerutu.

Jika di beberapa negara seperti Amerika Serikat, ketamine masuk ke dalam obat keras golongan III, dan Australia, Singapura, Hongkong, India dan beberapa negara Asia masuk dalam obat keras golongan I, dan di Kanada termasuk golongan I narkotika, namun di Indonesia, ketamine hanya masuk daftar farmasi yang diawasi dan dibatasi peredarannya oleh Departemen Kesehatan.

"Atas kepemilikan barang tersebut, tersangka dikenakan pasal 196 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar," katanya.

Untuk menindaklanjuti, akhirnya tersangka langsung dilimpahkan ke Polda Bali untuk menjalani proses hukum.

Bea Cukai Sumatera Utara Tegah Enam Ribu Botol Miras

Sebanyak 6.825 botol minuman keras berbagai merk dan jenis yang masuk secara ilegal, diamankan Bea Cukai Sumatera Utara (Sumut). Dalam kasus ini turut diamankan satu orang tersangka.

Merk-merk minuman yang disita tersebut, yakni Absolute Vodka, Bacardi, Jacob's Creek, Jim Bearn, Barton & Gusetier, Cointreau, Early Times, Gordon's Regin, Martell, Myers's Rum, Red Label, dan Smirnoff. Kini barang-barang tersebut diamankan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sumut, Jl Anggada II, Belawan, Medan.

Keterangan yang diberikan Kepala Bagian Umum dan Kepatuhan Umum, Budiman Karo Karo didampingi Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan, Cerah Bangun menyebutkan, minuman tersebut disita dalam penyergapan yang dilakukan aparat bea cukai di Medan.

"Kita sudah mengintai lama, seterusnya dilakukan penangkapan dan berhasil diamankan 6.825 botol minuman," kata Cerah Bangun kepada wartawan di Belawan, Medan, Selasa (12/4/2011).

Penangkapan itu sendiri terjadi pada akhir Januari 2011 lalu. Penyergapan dilakukan pada saat minuman keras itu diangkut dengan menggunakan tiga unit kendaraan, yakni satu unit truk BK 8278 XT, dan dua unit mobil box, BK 9835 BK dan BK 8319 CE. Botol-botol minuman keras itu dikemas dalam goni plastik dan diganjal dengan kardus.

"Semula dikatakan itu kecap isinya, setelah diperiksa ternyata minuman keras," kata Bangun.

Miras tersebut berasal dari Singapura via Port Klang, Malaysia, kemudian masuk melalui Dumai, Riau. Seterusnya diangkut dengan truk menuju Medan. Seorang tersangka SH alias Agus alias Syamsul diamankan dalam kasus ini, sementara dua lainnya B dan JM dinyatakan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Senin, 11 April 2011

Perdagangan China Defisit Kuartal Pertama Tahun 2011

China mengalami defisit perdagangan pada Januari-Maret, meskipun berhasil kembali surplus untuk Maret, menurut data pemerintah yang dirilis Minggu (10/4).

Pada kuartal pertama 2011, perdagangan China mencapai defisit US$ 1,02 miliar, kejatuhan kuartalan pertama sejak 2004, menurut Administrasi Umum Bea Cukai.

Pada Maret kemarin, China mencatat surplus US$ 140 juta dibandingkan dengan defisit US$ 7,3 miliar pada Februari, karena ekspor naik 35,8% dari tahun sebelumnya, sedangkan impor naik 27,3%.

Surplus ini dibandingkan dengan perkiraan defisit sebesar US$ 4,2 miliar, menurut survei ekonom Reuters. Sedangkan survei Dow Jones Newswires memproyeksikan defisit US$ 4,0 miliar.

Triwulan pertama ini perdagangan Cina mengalami defisit. Hal ini merupakan defisit pertama dalam tujuh tahun terakhir. Cina berhasil mengurangi tekanan yang memungkinkan semakin cepatnya apresiasi yuan.

Negara dengan ekonomi terbesar di Asia ini mengalami defisit sebesar US$ 1,02 miliar dalam tiga bulan pertama tahun ini dibanding surplus US$ 13,9 miliar. Selain itu angka impor melonjak hingga 32,6 persen mencapai rekor kuartalan US$ 400,7 miliar. Peningkatan ini didukung meningkatnya permintaan domestik dan tingginya harga komoditas global.

Beberapa mitra dagang China seperti Amerika Serikat mengatakan percepatan apresiasi yuan sangat diperlukan untuk membantu mengatasi ketidakseimbangan global yang mempengaruhi krisis keuangan global. Perdana Menteri Cina Wen Jiabao menyebut reformasi nilai tukar yuan harus dilakukan bertahap untuk menjaga stabilitas sosial. "Peningkatan permintaan domestik adalah cara terbaik untuk berkontribusi," katanya.

Ekonom dari Mizuho Securities Asia Ltd Shen Jianguang menyebut defisit perdagangan yang terjadi adalah tanda bahwa upaya rebalancing China yang maju terjadi lebih cepat dibanding yang dipikirkan banyak orang. Shen berharap surplus perdagangan terus turun menjadi di bawah US$ 150 miliar tahun ini dari US$ 183 miliar tahun lalu.

Data bea cukai China menunjukkan surplus perdagangan tahun 2009 US$ 196 miliar turun dari rekor US$ 295 miliar pada tahun 2008. Defisit perdagangan Cina pertama kali terjadi pada triwulan pertama tahun 2004. Ketika itu Cina mengalami defisit perdagangan hingga US$ 8 miliar.

Meski begitu lonjakan harga komoditas yang memberi kontribusi pada defisit perdagangan kuartal pertama justru dikhawatirkan akan memberi tekanan inflasi. Menurut data Bea Cukai pengiriman minyak mentah pada kuartal pertama naik 12 persen menjadi US$ 43,7 miliar. Biaya impor bijih besi melonjak 82,5 persen menjadi $ 27,7 miliar sementara jumlah logam naik 14,4 persen.

Ekonom Australia & Selandia Baru Banking Group yang sebelumnya bekerja untuk Bank Dunia Liu Li-Gang menyebut China masih akan menghadapi tekanan kuat dari inflasi impor. "Sementara itu pemerintah dapat menggunakan subsidi fiskal untuk mengimbanginya dan menahan inflasi akibat impor," ujar Liu.Liu memperkirakan tahun ini yuan akan meningkat 6 persen terhadap dolar.

Surplus perdagangan dan kontrol mata uang telah meningkatkan devisa Cina. Hal ini di sisi lain dikhawatirkan menjadi penyebab ketidakseimbangan ekonomi global. Atas kondisi ini pemerintah Amerika Serikat menyebut Yuan sebagai penyebab ketidakseimbangan dalam perdagangan bilateral. Di sisi lain Cina menyoroti kebijakan pembatasan ekspor AS pada produk teknologi tinggi.

Dalam waktu dekat Bank sentral China akan mengumumkan kepemilikan valuta asing negara. Menurut data bloomberg jumlah cadangan valuta asing Cina sudah mencapai US$ 2,98 triliun pada kuartal pertama.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger